Insiden lumpur lapindo ini dimulai pada 29 Mei 2006 ketika sumur minyak milik Lapindo Brantas Inc. meledak, menyebabkan penemuan lumpur panas yang terus mengalir ke permukaan. Lumpur panas yang terus mengalir akibat insiden ini telah menelan ratusan hektar lahan, desa-desa, dan infrastruktur di sekitarnya. Dampak lingkungan yang dihasilkan oleh insiden ini sangat besar dan masih terasa hingga saat ini. Insiden Lumpur Lapindo tidak hanya menimbulkan dampak lingkungan yang besar, tetapi juga dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar yang kehilangan mata pencaharian dan rumah mereka akibat bencana tersebut.
Hingga saat ini per 2024, pemerintah masih aktif dalam membantu korban lumpur Lapindo, khususnya yaitu berupaya meninggikan dataran tanah yang ada akibat sempuran panas lumpur.

Seperti yang terlihat pada gambar, dimana saat ini ketinggian tanah sudah sangat tinggi, dan disampingnya ada rel kereta api. Kemudian di sampingnya lagi ada jalan raya Porong.

Perhatikan gambar terbaru, dimana yang di lingkari merah adalah titik sumber lumpur lapindo. Walaupun sudah dibangun tanggul cukup tinggi, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa lumpur akan surut atau pudar.

Terlihat beberapa alat berat masih digunakan untuk mempertinggi tanggul agar tidak meluap ke jalan raya atau pemukiman sekitar.
Antisipasi yang sudah dilakukan pemerintah hingga saat ini adalah lumpur lapindo tersebut di sedot dengan mesin penyedot dimana pipanya sangat besar, kemudian dibuang langsung ke sungai Brantas.

Terlihat juga hamparan tanah luas yang tadinya merupakan lumpur lapindo yang telah mengering.
Dokumentasi via Youtube @ MasDon Channel
Leave a Reply